Sunday, October 9, 2011

Asal Mula Penyebab Terjadinya Krisis Global Saat Ini

Hari minggu tanggal 9 Oktober 2011 saya update status di FB sebuah do’a seperti terlihat dalam gambar dibawah ini.
Dimana doa tersebut artinya “Ya Allah saya bersungguh-sungguh berlindung kepadaMu dari rasa susah dan sedih, dan aku berlindung kepadaMu dari rasa lemah dan malas, dan aku berlindung kepadamu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepadamu dari lilitan hutang dan tekanan orang lain.”
Dan do’a tersebut dianjurkan oleh Rosululloh SAW setiap pagi dan petang. Karena ini dianjurkan oleh Rosululloh maka tentunya ada makna yang lebih dari sekedar sebuah do’a.  Kemudian saya mencoba lebih mendalami maknanya dalam kehidupan sehari-hari khususnya dengan kondisi yang sedang terjadi bulan ini tentang krisis financial global yang pernah saya ulas dalam tulisan sebelumnya.
Dalam doa tersebut Rosululloh menganjurkan kita umatnya untuk berlindung kepada Allah SWT dari 4 hal yaitu :
1.       Rasa susah dan sedih
2.       Rasa lemah dan malas
3.       Sifat pengecut dan kikir
4.       Lilitan hutang dan tekanan orang lain
Kalau kita pahami lebih dalam ke empat hal tesebut saling terkait seperti sebuah siklus yang berputar sebab-akibat. Untuk memudahkan pemahamnya maka saya mulai dari rasa lemah dan malas, disini adalah masalah produktivitas setiap orang berawal dari sini atau dengan kata lain maka bila kita malas dan lemah maka ujungnya kita tidak productiv. Orang yang tidak produktiv maka berakibatkan kepada kesulitan ekonomi sehingga orang seperti ini akan mengalami rasa susah dan tentunya sedih karena kondisi ekonomi yang lemah atau dikelompok ke dalam orang yang berada dibawah garis kemiskinan.
Ketika kesulitan ekonomi melanda kepada orang tersebut muncullah sifat kikir karena memang dikondisikan kepada ekonomi  yang serba terbatas sehingga terbentuk pola pikir “Buat gue aja kurang gimana gue mo ngasih loe” dan ironisnya secara tidak sadar akan terbentuk sifat pengecut dalam hal mencari nafkah. Sifat pengecut ini nanti mendorong orang tersebut kedalam gaya hidup “besar pasak daripada tiang” karena ingin dilihat mampu dan cenderung memenuhi “gaya hidup” ketimbang kebutuhan hidup, akibatnya untuk menutupinya menggunakan uang hasil hutang.
Karena hutang yang didapat bukan untuk kegiatan produktiv maka setiap bulan dia akan kesulitan mencicilnya karena penghasilannya nggak cukup, akibatnya pokok hutang tidak berkurang sehingga menumpuklah hutang tersebut dari waktu ke waktu semakin besar. Inilah kondisi yang disebut “Lilitan hutang” atau dalam doa tersebut diatas disebut “Ghalabati al Daini”. Lalu kalau sudah tercipta demikian sampailah pada kondisi dikejar-kejar debt collector atau penagih hutang maka kondisi demikian bisa disebut sebagai kondisi mendapat tekanan orang lain atau dalam doa tersebut diatas disebut “Khohri Al Rijaal”. Sehingga inilah mengapa Rosululloh SAW menganjurkan kita membaca doa tersebut setiap hari pagi dan petang, agar kita sebagai umatnya selalu menghindari jangan sampai terjadi ke empat hal tersebut yang pada akhirnya kalau semua umat Islam terhindar dari hal-hal tersebut Insya Allah kejayaan islam seperti jaman Nabi dan Sahabatnya bisa dibangkitkan kembali dimassa sekarang ini. Karena secara bukti sejarah Nabi dan para Sahabatnya dizaman kekhalifahan Islam telah membuktikan kejayaan Islam karena selalu memegang serta memaknai doa tersebut diatas.
Itu adalah penjabaranya untuk individu agar mudah pendekatan pemahamanya dalam kehidupan sehari-hari. Lalu bagaimana jika kondisi demikian tersebut terjadi atau dilakukan oleh negara ?
Identik dengan yang dilakukan individu, negara juga demikian, namun dalam skala lebih besar karena yang diurus adalah 200 juta lebih penduduk Indonesia. Kita tahu diberbagai media bahwa pangkal dari segala krisis ini adalah masalah hutang baik di AS maupun yang terjadi di negara-negara eropa juga Indonesia, dimana gaya hidup ngutang, yang dilakukan individu secara rame-rame maupun yang dilakukan oleh pemerintah. Begitu pun dengan bangsa Indonesia, kita telah keliru mengambil contoh!. Ekonomi bangsa ini, gaya hidup bangsa ini mencontoh ekonomi barat khususnya Amerika yang sebenarnya sama sekali tidak bisa kita contoh.
Dalam hal gaya hidup ngutang yang dilakukan oleh pemerintah misalnya, pemerintahan Amerika September 2011 mengajukan ijin ke Konggres untuk menaikkan batas atas hutang negaranya. Bahkan JP Morgan mengestimasi bahwa beban pinjaman AS dapat meningkat sebesar US$ 100 billion/ year inilah yang kemudian memicu ketidak percayaan dunia terhadap perekonomian AS, sehingga badan rating S&P menurunkan rating / peringkat kredit Amerika Serikat dari TripleA untuk pertama kalinya dalam sejarah, ditambah lagi dengan memberikan outlook "negatif". Yang mengerikan sebenarnya bukan ukuran dari hutang tersebut, melainkan trend kenaikan hutangnya.
Inilah musibah yang dimaksud dalam doa tersebut diatas, terjadinya lilitan hutang yang membuat seluruh dunia kalang kabut didera krisis financial dan belum kelihatan ujungnya sampai saat ini. Dan karena system ini saling mengikat khususnya sesama anggota IMF, maka akan merembet ke semua negara.
Dalam dunia financial, ada dua jenis hutang yaitu yang disebut Self-Liquidating Debt saya sebut saja SLD dan yang satunya tentu sebaliknya yaitu Non-Self-Liquidating-Debt atau N-SLD.

SLD adalah hutang yang produktif yang bisa membayar hutangnya sendiri dari aktivitas produktivnya tersebut. Sebagai contoh saat kita berhutang misal dengan system gadai emas dan mendapat uang pinjaman Rp. 100 juta untuk kegiatan produksi barang atau jasa yang hasilnya bisa bila kita jual mendapatkan Rp. 130 juta. Dari penjualan ini, Rp. 10 juta kita pakai untuk biaya ijaroh, Rp 20 juta menjadi keuntungan kita. Kita bisa berproduksi dan pemberi hutang juga mendapatkan hasil dari dananya. Hutang semacam ini banyak-banyak tidak masalah karena akan mendorong produktivitas.
Sebaliknya N-SLD adalah hutang yang tidak bisa membayar dirinya sendiri. Contoh pegawai dengan penghasilan Rp 5 juta/bulan mengambil kredit Grand Kijang Inova (new Inova)  baru dengan cicilan Rp 5 juta/bulan. Maka setiap bulan dia akan kesulitan mencicilnya karena penghasilannya nggak cukup; untuk menutupi ketidak cukupannya dia berbelanja bulanan dengan credit card. Maka menumpuklah hutang tersebut dari waktu ke waktu semakin besar. Inilah Ghalabati Al-Dain itu, dimana Rosululloh menyuruh kita untuk berdoa agar tidak masuk kedalam kondisi demikian, dan kita disuruhnya untuk meminta perlindungan kepada Allah SWT agar tidak terjadi demikian.
Negara juga demikian; mereka berhutang bukan hanya untuk kegiatan produktif tetapi lebih banyak untuk kegiatan konsumtif. Di Amerika kegiatan konsumtif yang sangat besar adalah untuk membiayai perang dan aksi-aksi “mengatas namakan pemberantasan terorisme” serta pembelaan terhadap Israel yang tidak membawa manfaat bagi penduduk mereka sendiri.
Di negeri seperti Indonesia, hutang-hutang Negara tersebut dipakai untuk menutup defisit Angaran (APBN), untuk ‘hidup sehari-hari’- nya negeri ini. Bahkan ironisnya sekarang ini sudah mencuat bagaimana para anggota dewan “bermain di BANGGAR DPR” dalam mengkorupsi berjamaah sampai akhirnya menimbulkan “perkelahian” cukup sengit antara KPK dan DPR bulan Oktober 2011 sekarang ini. Bahkan sampai muncul keinginan dari anggota DPR agar KPK dibubarkan, karena tentunya hanya KPK yang bisa mengusik masalah korupsi di negeri ini. Karena blog ini bukan untuk politik maka biarlah mereka-mereka berdebat dan berdiskusi, saya sebagai rakyat biasa harus melakukan Upaya perbaikan negeri ini mulai dari apa yang saya bisa. Pada saat pemerintah terus mengambil kebijakan yang tidak produktiv, maka sama saja membebani APBN yang akan semakin defisit misalnya dengan terus menambah jumlah pegawai negeri yang jelas digaji dari APBN dan bukan merupakan kegiatan produksi barang ril untuk eskpor dan sekaligus memberikan "mind set" generasi kita lebih memilih jadi pegawai negeri daripada menjadi pengusaha.
Jadi negeri-negeri seperti Amerika, Indonesia dan seluruh negara di dunia saat ini – sama dengan rakyatnya – hidup rutinnya ditambal dari kartu kredit. Ketika beban kartu kredit terus membengkak – maka bangkrutlah negera-negara tersebut. Untuk sementara kebangkrutan ini tidak nampak karena berbeda dengan individu, negara bisa mencetak uang dengan printer masing-masing (money creation). Anak cucu kita yang menanggung akibatnya sampai sekian generasi yang akan datang yang belum tahu ujungnya kecuali penerapan Emas sebagai alat tukar atau sebagai uang sesungguhnya. Bahkan diera sekarang ini tidak perlu mencetak uang secara fisik cukup menambahkan di angka dalam komputer saja.
Sehingga tidak ada salahnya kalau saya menghimbau dan mengajak pembaca blog untuk berdoa pagi dan petang setiap hari seperti ini :
“Ya Allah saya bersungguh-sungguh berlindung kepadaMu dari rasa susah dan sedih, dan aku berlindung kepadaMu dari rasa lemah dan malas, dan aku berlindung kepadamu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepadamu dari lilitan hutang dan tekanan orang lain."

No comments:

Post a Comment